Starry Night

Terima kasih ayah. atas pengalaman masa kecil yang layak ku kukenang.

Sepenggal kisah dari waktu silam. Menyeruak ingatan berlomba untuk dapat kembali melintas dari kedalaman memori yang nyaris tenggelam, menuju benderang permukaan hari ini, di mana aku berdiri memandangi gerak vertikal impuls saraf memori melawan gravitasi waktu.

Dulu ayahku seorang cerdas berwawasan. Begitu pun hari ini. Ayahku tetap seorang ayah yang hangat bagiku. Kehangatan ilmu yang dimilikinya pernah mengajakku berkeliling dunia bahkan luar angkasa. Tetapi usiaku kini telah mendekati usianya. sehingga keakraban tak seperti dulu.

Beberapa halaman belakang peta dunia. Dulu. Walaupun tanya berupa gambar, tetapi beliau mampu bercerita banyak dengannya. Waktu-waktu kosong selepas mengaji di kampung halamanku dulu, selalu indah dan sarat hal baru.

Ayahku, seorang pribadi anggun yang aku kenali saat itu. Perangainya baik walau sedikit bertemperamen tinggi. Sosok ayah yang membangggakan. Guru dan teman-temanku di sekolah selalu memberikan pujian kepadanya. Maka bagiku, saat itu, beliaulah idola.

Hal yang paling ku tunggu dari ayah adalah mana kala beliau membacakan cerita tentang sejarah dunia. Jika sudah bercerita, rasanya desa kami yang agak terisolasi itu mendadak terang benderang, serasa dunia ada di desa kami seluruhnya. Hal yang paling menarik bagiku adalah ketika beliau menjelaskan tentang tata surya, rasi bintang, dan pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Semua itu selalu beliau kaitkan dengan sejarah dunia. Sungguh membanggakan memiliki ayah seperti beliau. Setiap pagi, bagiku selalu menjadi hal yang sangat ditunggu untuk berangkat ke sekolah. Aku tidak sabar untuk segera bercerita tentang apa yang ayahku ceritakan kepadaku semalam.

Sejak kecil aku adalah anak yang disiplin dalam hal waktu. Aku belum pernah terlambat masuk kelas sejak kelas 1 hingga kelas 5 Sekolah Dasar. Itu berkat teladan yang aku serap dari ayah. Setiap hari aku berangkat ke sekolah pagi sekali. Ketika embun yang sedingin es di ujung helai daun-daun rumput dan semak belukar masih bergeming menunggu sang mentari menguapkannya.

Kebiasaan itu telah mendarah daging pada diriku. Hingga aku dikenal sebagai anak paling sering datang ke sekolah jauh sebelum waktu masuk kelas, bahkan jauh sebelum bapak dan ibu guru yang aku cintai datang ke sekolah. Ibu Tri, seorang guru yang sederhana dan bersahaja, rendah hati dan selalu bersemangat dalam mengajar, beliau adalah guru di kelasku. Sejak kelas 1 hingga menginjak kelas 5 beliau tak lelah mengajari aku dan teman-teman sekelasku menulis, membaca, berhitung, menggambar, dan bernyanyi. Oya, aku adalah siswa paling sering dipanggil oleh ibu guru untuk maju ke depan kelas, alasannya karena suaraku lantang dan suaraku ketika menyanyi tidak sumbang, maka aku sering dijadikan contoh. Ibu…aku rindu, kapan ya aku bisa bertemu dengan ibu lagi…mudah-mudahan aku segera bisa ke tempatmu mengajar…semoga engkau dalam keadaan baik. Jasamu begitu besar bagiku.

Starry Night—Malam bertabur bintang yang selalu terkenang di dalam memoriku.

Nyaris tak pernah lagi aku keluar di malam hari dan mendapati langit dalam keadaan cerah dan bertabur bintang. Hari ini, aku hanya mampu melihat satu atau beberapa bintang saja. Sedih rasanya, ingin rasanya kembali ke masa kecilku dulu. Ketika ayah mengajakku keluar rumah di malam hari untuk menikmati indahnya hasil penciptaan ilahi sambil mensyukurinya. Langit kini, tak lagi bersahabat bagi kami para pemburu bintang amatir. Amatir karena kami hanya berbekal peta rasi bintang dan mata telanjang. Modernisasi, industri, dan lampu-lampu kota, dan reklame berlampu itu telah mencemari langit dengan asap dan cahaya. Mengamati bintang tak lagi mudah bagi kami.

Padahal, bagiku bintang adalah saksi dan penyegar memori. Saksi bahwa aku pernah mengalami masa-masa indah bersama ayah di masa kecilku, dan penyegar memori yang mulai tererosi oleh usiaku.  Sungguh bagiku, langit adalah buku yang menyimpan banyak sejarah hidupku. Memori itu abadi hingga ajal menjemputku kelak.

Setiap kali aku keluar malam, hari ini, lalu aku menengadah ke langit, aku selalu sedih. Kesedihanku bukan karena ketidakbersyukuranku, ia lebih karena banyaknya memori yang terpanggil kembali ke masa ini. Subhanallah. Sekali lagi, ayahku yang baik..terima kasih atas pengalaman masa kecil yang indah dan tak terlupakan.

jatinangor, 05/11/10. 01:39 wib | romi swadesi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: