Mencari praktik baik di pantai utara jawa

Benar kata sebagian orang, jika ingin membentuk kedekatan dalam sebuah pertemanan, lakukanlah sebuah perjalanan bersama.

Dua pekan yang telah berlalu meninggalkan jejak-jejak yang begitu berwarna. Ragam latar belakang berpadu dalam ikatan pertemanan yang hangat membuatku sadar betapa pentingnya membangun kebaikan sebanyak mungkin .

Dari Subang Ke Indramayu Lalu Mengambil Jalan Lurus Ke Cirebon.

Perjalanan bersama tim PHKI-Unpad Program A bagiku bermula dari sebuah ketidaksengajaan, saat itu aku sedang membimbing adik-adik angkatan 2010 melaksanakan praktikum biologi. Tiba-tiba bapak Dwi Cipto menelepon dan memberitahukan bahwa aku tergabung di dalam Tim PHKI-Unpad (Program A) untuk melakukan penggalian informasi melalui enumerasi tentang praktik baik yang sedang dilakukan, atau bahkan hanya pernah dilakukan oleh sebagian masyarakat di daerah pantai utara (Pantura) Jawa Barat, yakni praktik-praktik baik yang melibatkan integrasi antar sektor pertanian (pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan). Hasil enumerasi tersebut pada akhirnya akan menjadi sebuah kumpulan fakta lapangan berupa data kualitatif dan kuantitatif yang akan dijadikan dasar pembuatan Road Map [peta jalan] untuk pengembangan sistem pertanian terintegrasi di daerah pantura propinsi Jawa Barat. Upaya ini sebagai salah satu upaya strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pantura Jawa Barat.

Jum’at, 29 Oktober 2010 Tim PHKI-Unpad memulai perjalanan menuju Kabupaten Subang. Keberangkatan dibagi menjadi 2 gelombang.  Sayangnya aku tidak dapat berangkat bersama salah satu dari keduanya karena sedikit kesibukan yang belum terselesaikan. Jalan terakhir adalah menggunakan sepeda motor, dan ternyata tidak mudah. Aku harus menunda keberangkatan karena hujan dan jalan yang gelap, di samping itu ada kekhawatiran ketika harus melewati jalan raya Bandung-Subang yang berkelok dan sepi. Akhirnya ku putuskan berangkat keesokan harinya. Sampai di subang tepat pukul 05.58 WIB aku langsung menuju Diamond Hotel di Jl. Otto Iskandardinata 18 Subang. Kawan-kawan tim PHKI-Unpad telah bersiap dan tengah mengambil sarapan pagi. Aku pun lalu bergabung, mengambil hidangan yang hampir habis..hehe. Pelajaran Pertama: JANGAN TELAT. Lalu aku lanjutkan dengan menyimpan barang bawaan di kamar 308, hotel ini cukup nyaman, hanya saja suasana nya kurang menyenangkan karena suhu udara yang panas. Mungkin akibat desain dan tata ruang yang kurang baik, selain itu peletakan kondensor AC/ heat exchange yang tidak tepat menjadikan ruangan di luar kamar menjadi sangat panas. padahal Kota Subang sendiri sudah berada di ketinggian yang tidak terlalu jauh di atas permukaan laut. panas…:)

Kami dibagi menjadi 2 tim dan berangkat ke 2 arah yang berlainan, satu tim menuju desa balingbing yang di sana terdapat praktik baik berupa integrasi padi, ikan, dan bebek (Parlabek=pare-lauk-bebek) dan minapadi, sedangkan tim kedua menyambangi desa ponggang untuk menimba informasi tentang praktik integrasi sapi-sawit. Dan aku berada di tim kedua. Kami dipimpin langsung oleh Bapak Dekan Fapet Unpad, Dr. Iwan Setiawan, DEA. Salah satu sosok teladan bagi saya.

Masyarakat desa ponggang sangat hangat, membuat kami serasa berada di rumah sendiri. Pelayanan prima ala masyarakat parahyangan. Selalu ramah, hangat, menyenangkan, dan tentu saja, mengenyangkan…[hehe].

Banyak temuan yang baru kami ketahui tentang praktik baik yang dilakukan masyarakat, lengkap dengan peluang, kendala-kendala, tantangan dan ancaman terhadap upaya baik masyarakat.

Menjelang sore kami meninggalkan desa Ponggang menyusuri sepanjang jalan menuju kota subang, mencari restoran yang makanannya sesuai dengan kondisi selera. Hujan rintik-rintik menemani perjalanan kami hingga akhirnya kami memutuskan memilih rumah makan “ajaib”..hehe. Ya, rumah makan yang sangat ajaib, pemilik dan pengelolanya adalah sepasang suami isteri yang sudah sepuh, tetapi ajaibnya mereka memiliki antusiasme yang sangat tinggi, bahkan lebih tinggi daripada sebagian besar pemuda zaman ini. Semangatnya sangat menular. Bayangkan saja bagaimana mereka berdua melayani tamu yang banyak mulai dari penyambutan, menjelaskan menu dan produk air yang ditawarkan, mencatat pesanan, memasak, menyajikan, hingga menerima pembayaran.

Restoran ini kami pilih selain karena kami membutuhkan tambahan energi pengganti juga karena rasa penasaran kami terhadap “Air Ajaib Samadhi”. Kami bertanya-tanya tentang apa sebenarnya “air ajaib ini?”, adakah air yang dimaksud berkaitan dengan hal-hal mistis atau..

hmm..ternyata,

Air Ajaib Samadhi adalah air yang berasal dari sumber air artesis yang tersimpan pada sedimen batuan purba dan keluar dari dalam tanah, menekan ke atas melalui media pipa yang keluar menetes. Tetesan tersebut ditampung dalam bak penampungan dan langsung dikemas dalam botol / galon siap edar. Sumber mata air mineral alam Disenfectan Higienis Indonesia ini terletak di kaki Gunung Tangkuban Perahu Subang Jawa Barat Indonesia, di ketinggian 200 M diatas permukaan laut. Kedalaman air hampir mencapai 100 meter dibawah permukaan tanah.Air ini mengandung bermacam—macam mineral sehingga mempunya multi manfaat, dan dapat diminum langsung, tanpa menimbulkan efek samping negatif bagi tubuh kita karena dinyatakan bersih, bebas kuman maupun bakteri apapun yang sebelumnya sudah diteliti oleh para ahli di Laboratorium Institut Teknologi Bandung (ITB) maupun dari Sucofindo. Keunikan Air Ajaib “SAMADHI” ini adalah airnya berasa sedikit asin alami walaupun adanya di daerah pegunungan. Namun air ini tidak membuat perih di mata berbeda dengan air garam pada umumnya karena air ini adalah AIR PURBA berdasarkan penemuan fosil kerang membatu yang berumur jutaan tahun yang lalu, dan air ini merupakan barang langka di dunia.
|airsamadhi.com

Yang menarik adalah pemilihan nama air ajaib, strategi pemasaran yang sangat bagus. dimana nama yersebut membuat orang menduga-duga apa itu air ajaib.

Air Mineral atau Air Minum Dalam Kemasan. Jangan salah sebut.

Menurut SNI (Standar Nasional Indonesia), definisi air minum dalam kemasan (AMDK) adalah air yang telah diolah dengan perlakuan khusus dan dikemas dalam botol atau kemasan lain dan memenuhi persyaratan air minum (Air Minum Isi Ulang). Sedangkan air mineral adalah air yang diperoleh langsung dari sumbernya, dikemas di dekat lokasi sumber air, memiliki syarat kandungan mineral tertentu, dan juga dikemas dalam botol ataupun kemasan lainnya.

Malam harinya kami briefing, evaluasi kecil tentang apa yang telah kami lakukan siang tadi, persiapan untuk esok hari. Dilanjutkan dengan berjalan-jalan malam menyusuri tepian jalan kota subang, mencari “pengganjal perut” katanya..:). Kami dapati kota subang di malam hari tidak terlalu benderang, jalannya lumayan tertata, tetapi trotoarnya bolong-bolong…:)

Friends Make Life A Little Sweeter. And Even Much Sweeter.

Tak terasa, 2 hari telah kami lewatkan dengan penuh warna, canda, tawa,dan agungnya nilai-nilai persahabatan. Saatnya kami pulang. Tiga mobil meluncur meninggalkan kota subang menuju arah lembang. Sedangkan aku meluncur dengan vega zr yang sedikit kedinginan oleh angin dingin perkebunan teh yang nyaris gulita.

Sepekan berlalu. 05 November 2010. Lagi. Kami bertolak menuju dua kabupaten di pantai utara Jawa Barat. Kali ini giliran Indramayu dan Cirebon. Kami berangkat sekitar pukul 17.00 waktu jatinangor. Kami tiba di Indramayu sekitar pukul 20.00. Setibanya di sana kami langsung memasuki restoran untuk makan. Namanya Alas Daun, makanannya tidak terlalu spesial, hanya saja kejadian di dalamnya yang meninggalkan banyak kenangan berbeda.

Salah satunya adalah pengalaman yang dialami oleh Bapak Setiawan, beliau adalah seorang staf kemahasiswaan Fakultas Peternakan Unpad.  Setelah mengendarai mobil selama hampir 3 jam, beliau bermaksud untuk menghangatkan diri [padahal indramayu panas lho..:)], atau paling tidak melepas ketegangan, bersantai sejenak sembari menikmati segelas teh poci. Dengan penuh keyakinan beliau memesan menu sup dan teh poci. Hmm..terlihat sederhana. Tetapi apa yang terjadi setelah sup dan teh poci tersaji membuat suasana tidak lagi sederhana. Tawa puas sebagian dosen dan mahasiswa memecah kesederhanaan suasana waktu itu. Betapa tidak, karena beliau sangka teh poci yang disajikan hanya secangkir saja. Tapi ternyata dihidangkan dengan poci-pocinya…hehehe..namanya juga teh poci pak, ya di dalam pocilah…:) kalau mau secangkir saja mestinya bapak pesan teh cangkir saja..hehehe. [peace pak…:)]. Pak Dwi Cipto malah sempat mengambil foto pocinya lengkap dengan cangkir merah bata berbahan tanah itu. Pak Dwi jahil juga ya..hehehe.

Malam selanjutnya, setelah seharian mengunjungi beberapa desa dan menggali sebanyak mungkin informasi, kami makan malam di Pondok Ikan Bakar Mina Ayu yang terletak di pesisir limbangan, Jalan Raya Balongan-Karang Ampel. Suasanya penuh keakraban, bahkan Asep, salah seorang mahasiswa FPIK Unpad, karena saking akrabnya, beliau tidak segan-segan menyantap banyak sekali hidangan laut yang tersaji, yang lain mah malu-malu..tapi mau..(…hehe..peace..). Oya, makanan di pondok ikan bakar ini layak dicoba. Seperti hidangan pembuka berupa cumi goreng crispy…yummm,,renyah, enak. Udang dan ikan bakar dan kepiting. Pokoknya top markotop deh…hehe… 🙂

Sayang sekali salah satu anggota rombongan alergi makanan laut, akhirnya kami putuskan berkeliling kota mencari antihistamin/anti alergi.

Hal menarik berikutnya kami alami ketika aku dan Dirga mendatangi apotek rumah sakit umum daerah Indramayu. Maksud kami ingin membeli CTM.

Chlorpheniramin maleat atau lebih dikenal dengan CTM merupakan salah satu antihistaminika yang memiliki efek sedative (menimbulkan rasa kantuk). Namun, dalam penggunaannya di masyarakat lebih sering sebagai obat tidur dibanding antihistamin sendiri. Keberadaanya sebagai obat tunggal maupun campuran dalam obat sakit kepala maupun influenza lebih ditujukan untuk rasa kantuk yang ditimbulkan sehingga pengguna dapat beristirahat.

CTM memiliki indeks terapetik (batas keamanan) cukup besar dengan efek samping dan toksisitas relatif rendah. Untuk itu sangat perlu diketahui mekanisme aksi dari CTM sehingga dapat menimbulkan efek antihistamin dalam tubuh manusia.

Menurut Dinamika Obat (ITB,1991), CTM merupakan salah satu antihistaminika H1 (AH1) yang mampu mengusir histamin secara kompetitif dari reseptornya (reseptor H1) dan dengan demikian mampu meniadakan kerja histamin.

Di dalam tubuh adanya stimulasi reseptor H1 dapat menimbulkan vasokontriksi pembuluh-pembuluh yang lebih besar, kontraksi otot (bronkus, usus, uterus), kontraksi sel-sel endotel dan kenaikan aliran limfe. Jika histamin mencapai kulit misal pada gigitan serangga, maka terjadi pemerahan disertai rasa nyeri akibat pelebaran kapiler atau terjadi pembengkakan yang gatal akibat kenaikan tekanan pada kapiler. Histamin memegang peran utama pada proses peradangan dan pada sistem imun.

CTM sebagai AH1 menghambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus dan bermacam-macam otot polos. AH1 juga bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas dan keadaan lain yang disertai pelepasan histamin endogen berlebih. Dalam Farmakologi dan Terapi edisi IV (FK-UI,1995) disebutkan bahwa histamin endogen bersumber dari daging dan bakteri dalam lumen usus atau kolon yang membentuk histamin dari histidin.

Dosis terapi AH1 umumnya menyebabkan penghambatan sistem saraf pusat dengan gejala seperti kantuk, berkurangnya kewaspadaan dan waktu reaksi yang lambat. Efek samping ini menguntungkan bagi pasien yang memerlukan istirahat namun dirasa menggangu bagi mereka yang dituntut melakukan pekerjaan dengan kewaspadaan tinggi. Oleh sebab itu, pengguna CTM atau obat yang mengandung CTM dilarang mengendarai kendaraan.

Jadi sebenarnya rasa kantuk yang ditimbulkan setelah penggunaan CTM merupakan efek samping dari obat tersebut. Sedangkan indikasi CTM adalah sebagai antihistamin yang menghambat pengikatan histamin pada resaptor histamin. |http://terracacao.blogspot.com

Tetapi kami tidak diperbolehkan membeli. Alasannya harus dengan resep dokter. Padahal Citra (teman kami yang sedang alergi) telah duluan menuju hotel dengan mobil yang lain, dan tidak mungkin untuk dihadirkan disitu. Hmm…setelah memaksa agak lama, ternyata tetap saja tidak dizinkan, alasannya khawatir disalahgunakan. Hey…CTM bisa untuk kejahatan apa ya? Saya tanyakan ke petugas jaganya, “memangnya saya kelihatan seperti orang jahat ya pak? hehe…Dirga senyum-senyum saja. Syukurlah bapak itu tidak mengiyakan, seandainya tega mengiyakan….hrggghh…saya doakan selamat lo pak. hehehe.

Akhirnya kami kembali dengan tangan kosong. Kami mengerti bahwa ada mekanisme yang mesti dipenuhi. Setelah berkeliling beberapa blok, akhirnya kami menemukan apotek yang masih buka. Bahkan bukan saja buka sampai malam, ternyata pelayan apotek tersebut masih terlihat segar bugar, mereka memberikan pelayanan yang sangat prima, tidak lupa senyuman mereka pun menjadi atraksi yang membahagiakan, sampai-sampai Dirga, kendati sudah larut, ia masih sempat-sempatnya menggoda mereka, karena pelayannya wanita belia. Hmm..Alhamdulillah kami mendapatkan satu strip CTM.

Waktu-waktu yang kami lalui bersama tanpa disadari telah merajut kedekatan hingga terjalin sebuah ikatan pertemanan yang sarat kehangatan, saling menghargai, dan melengkapi. Di dua kota ini kami berkali kali berpindah hotel, mulai dari dari hotel Wiwi Perkasa, hotel Patra Jasa, dan terakhir hotel Plaza Cirebon. Semuanya meninggalkan kesan yang berbeda.

Pertemanan yang terjalin menambah warna di sela-sela aktivitas yang sangat padat dan menyita tenaga. Membawa semangat lebih bagi kami. Betul kata sebagian orang bahwa canda itu penyeimbang suasana kerja. Kita membutuhkan hiburan, dan hiburan termurah adalah saling melepas canda, hingga darinya tercipta rasa bahagia.

Berbicara tentang canda dan pemecah kebekuan, maka bagi tim PHKI Unpad Program A, ada seorang teman yang tanpa berkelakar dengan gurauan pun kami sering kegelian dibuatnya. Hera namanya, mahasiswi tingkat akhir FTIP Unpad. Ciri khas melekat pada sosok beliau. Pribadi yang memiliki keindahan sesuai versinya, sarat dengan kepolosan, Ia tak lantas melepas respon negatif terhadap canda kendati berlebihan.

Setelah dua hari di Indramayu, saatnya melanjutkan petualangan ke kabupaten Cirebon. Mengunjungi Desa Sumber Lor, dijamu oleh para petani dan peternak, berfoto di hamparan sawah yang luas, berbincang hangat dengan peternak kerbau, mengunjungi dan belanja di sentra batik cirebon-Trusmi, menyantap kudapan khas cirebon, dan sejumlah pengalaman menarik lainnya.

Empat hari yang panjang. Masing-masing hari membekaskan jejak yang layak dijadikan perenungan. Bahwa kita harus bekerja bukan hanya demi kebaikan satu orang.

|thanks to: pak dwi cipto, pak iwan setiawan, pak ronnie, pak wendry, pak dwi s, pak endang, pak setiawan, andra, asep, citra, dirga, hafiez, hera, kiky, ligar, lucky, ranti, pak wardono dan seluruh petani dan peternak. Saya, menyerap nilai-nilai kebaikan yang banyak dari semuanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: