Mengajarkan Ilmu Hakikatnya adalah Belajar untuk Diri Sendiri

Tiga tahun terakhir baru saya sadari bahwa belajar paling efektif adalah dengan cara mengajarkan ilmu yang kita miliki. Dengan kata lain berbagi ilmu. Bagi saya, ini menjadi jawaban mengapa sahabat-sahabat dekat saya semasa SMA dulu bisa sukses meraih prestasi puncak. Sehingga mereka berhasil memasuki perguruan tinggi yang mereka citakan.

Seorang Dosen mampu menguasai ilmu dengan sangat baik bukan hanya karena mereka mengulang-ulang materi ilmu tersebut. Ada faktor lain yang menjadikan ilmu mereka semakin mantap dan terus bertambah. Pengulangan dalam mengajarkan ilmu yang membuat mereka menjadi ahli.

Belajar sebelum mengajar dan Mengajar untuk Belajar.

Berapa banyak kegiatan perkuliahan yang berlalu tanpa meninggalkan kesan. Tak terhitung pula seberapa banyak waktu terbuang sia-sia. Suasana kelas terasa sangat membosankan. Kantuk lebih dominan daripada gairah menuntut ilmu. Lalu apa yang salah?

Tentu kita tidak boleh menyalahkan individu-individu itu. Sebagian dari mereka hanya korban dari sistema tak sempurna yang telah dianggap biasa. Tetapi sebagai seorang tenaga pendidik mestinya masing-masing individu memiliki kepedulian untuk menciptakan pengalaman belajar yang positif bagi peserta didik nya.

Kebanyakan kasus  proses belajar-mengajar yang tidak menyenangkan disebabkan oleh metode penyampaian yang datar yang digunakan oleh tenaga pengajar, ruang kelas yang tidak nyaman, materi kuliah yang itu-itu lagi, dan sebagainya. Berapa banyak tenaga pendidik yang masih menggunakan modul kuliah berusia sepuluh tahun. Yang sampul nya telah terkoyak di sana-sini itu. hmm…

Baiklah, mari kita lupakan sejenak masalah-masalah teknis itu. Sekarang mari kita lihat ke dalam diri kita. Terutama bagi yang berkecimpung di dalam dunia pendidikan. Lihatlah bagaimana  kita belajar untuk diri kita sendiri. Kemudian tinjau kembali bagaimana kita memposisikan diri kita sebagai pihak yang mengharuskan kita untuk tidak hanya mengajarkan tetapi juga belajar.

Bagaimana mungkin pengalaman belajar-mengajar akan lebih baik, sedangkan kita tidak pernah belajar lagi. Bagaimana bisa suasana belajar dapat menyenangkan jika kita enggan menyisihkan waktu untuk sekadar membuat inovasi. Saya rasa, Ini masalah sikap.

Newmann and Wehlage (1997) describe a system of support for authentic learning that has been adapted to describe supports for Contextual Learning.

In Newmann and Wehlage’s circles of support, the ultimate goal is to support high quality student learning. To do so, everyone in the school must agree on a definition of what students should learn and what strategies support learning. Next, teaching and learning strategies, (whether in the classroom, school, or community) require considerable support from the school organization. Finally, external supports provide encouragement and resources to help students and educators create high quality teaching and learning environments.

Lebih jauh, tentu banyak faktor yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya upaya untuk menciptakan pengalaman belajar-mengajar yang positif. Kita tidak boleh menghakimi. Dan terkadang kita tidak dapat menuntut banyak. Sebagai individu, yang perlu kita lakukan adalah selalu memperbaiki pelayanan dan mengupayakan untuk tetap belajar.

Di dalam proses mengajarkan, di sana lah tempat bagi seorang pengajar untuk belajar memberi dan merencanakan pelayanan yang terbaik.

Tetaplah belajar sebelum mengajar dan mengajar untuk belajar. Karena hakikat mengajar adalah belajar untuk diri sendiri.

Advertisements

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: