The Early Bird Catches The Worm

Siapa Cepat, Dia Dapat!#pepatah Indonesia.

Sebagian kita tidak benar-benar memahami pepatah ini. Hari ini, pepatah “Siapa Cepat, Dia Dapat” sering disalahartikan. Maknanya malah kemungkinan telah bergeser menjadi cenderung lebih negatif. Bahkan sangat negatif. Bersaing dan menghalalkan cara apa saja.

Nah, mari kita tinjau kembali efek samping pepatah ini. Tentu, bukan karena kesalahan pepatah nya, tetapi salah kita yang memahaminya. Ok, sebagai contoh lihatlah berapa banyak korban masyarakat miskin yang mesti meninggalkan dunia selamanya akibat berdesakan ketika mengantri sembako gratis yang kadang-kadang tidak layak konsumsi itu? hmm..

“The Early Bird Catches The Worm”: Something that you say in order to tell someone that if they want to be successful they should do something immediately #Idiom berbahasa Inggris dari abad ke-17

Hoho..baiklah, kita tinggalkan efek negatifnya. Let’s check the good side.

Selalu ada sisi baiknya. Pasti!. Saya teringat salah satu dosen saya. Seorang dosen yang menjadi teladan bagi mahasiswa, staff, sesama dosen, bahkan guru besar sekalipun. Beliau sosok yang sangat memperhatikan waktu. Beliau sangat menghargai waktu, dan tentu saja beliau sangat mengapresiasi siapa pun yang menghargai waktu. Tidak heran jika di mata masyarakat kampus beliau menjadi ikon pribadi disiplin, baik sebagai individu biasa maupun sebagai dosen. Pada setiap kesempatan beliau senantiasa datang jauh lebih awal. Bahkan beliau datang ke kampus terkadang jauh sebelum bibi-bibi petugas kebersihan membersihkan koridor depan gedung di mana kantor beliau berada.

Orientasi beliau adalah kinerja dan goal. Saya katakan KEREN !. 🙂

Maka dalam kasus ini hukum “The Early Bird Catches The Worm” bekerja. Terbukti dengan gemilangnya prestasi beliau baik di tataran fakultas maupun universitas. Beliau selalu dipercaya memegang berbagai amanah penting. Dan hasilnya selalu berbeda. Tentu dengan kualitas yang sangat baik. Itulah salah satu teladan penting dari pribadi anggun tersebut. Dosen Saya.

Tentu, selain sikap positif itu masih banyak sikap lain yang menentukan kesuksesan beliau dalam mengemban sebuah amanah, bahkan beberapa amanah penting sekaligus. Amanah yang masing-masing membutuhkan perhatian dan tanggungjawab besar.

Nah, sekarang mari berkaca pada diri kita sendiri. Bagaimana diri kita menyikapi waktu dan menempatkan diri di dalamnya. Sepertinya jika kita benar-benar berani jujur kepada diri sendiri atau lebih ekstrem lagi mempersilakan penilaian kepada orang lain di sekitar kita untuk memberikan penilaian objektif, maka kita akan sangat malu oleh hasil penilaian tersebut. Pasti.

Well, itu sekadar berandai-andai. Pada kenyataannya menilai diri sendiri secara objektif saja kita sering enggan. Itulah mengapa kita selalu merasa baik-baik saja. Kebiasaan ini pada akhirnya akan membuat alam bawah sadar kita juga terbiasa. Hmm…lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Sebagai contoh, ketika kita sudah terbiasa terlambat bangun pagi, selanjutnya akan diikuti oleh terlambat-nya mandi pagi, selanjutnya terlambat sholat subuh, selanjutnya terlambat mempersiapkan kegiatan sehari penuh, selanjutnya terlambat sarapan pagi, selanjutnya terlambat berangkat ke kantor atau ke kampus, selanjutnya terlambat masuk kantor atau kuliah, selanjutnya…., selanjutnya…, dan terus begitu.

Bayangkan jika keterlambatan itu terus terjadi dan berulang setiap harinya, dan terus berlangsung selama hidup kita. Memang hal-hal itu kecil dan tampak sepele. Tetapi bayangkan efek jangka panjangnya. Berapa banyak pencapaian yang mesti tertunda akibat hal-hal sepele itu.

Aha..baiklah, saya pun sering berkaca pada diri sendiri, ternyata saya juga masih lebih sering sekali menjadi “The late bird” daripada “The early bird”. Tidak mudah untuk menjadi pribadi yang memiliki disiplin seekor “early bird”, dibutuhkan konsistensi dan kesungguhan yang berkesinambungan dalam mengupayakannya.

Almost gone: ON TIME.

Lingkungan masa kecil mendidik kita untuk senantiasa menjaga waktu. Setiap pagi ibu membangunkan kita pagi sekali, memandikan kita, memakaikan baju dan dasi merah, membedaki,  memasangkan sepatu dan topi berwarna merah-putih, menyiapkan sarapan, mengantar ke sekolah dengan langkah pendek yang yang rapat untuk mengimbangi langkah kaki kita yang mungil itu. Semuanya tampak begitu sempurna. Semuanya sarat dengan nilai dan pembelajaran. Penanaman nilai-nilai luhur sebuah sikap. Menghargai waktu.

Hmm..sayangnya, semakin kita dewasa nilai-nilai itu kian ter-erosi oleh lingkungan yang begitu heterogen. Nilai-nilai luhur yang ditanamkan sejak kecil itu kian hari kian surut. Sering kali kita membiarkan sistem yang ada di masyarakat membentuk ulang pribadi kita. Menjadikan kita sosok yang berbeda. Kita mulai memberikan toleransi terhadap para “late bird” hingga kita akhirnya tak beda dari mereka. Permisif.

Hanya pribadi-pribadi tangguh yang teguh menjaga, menambah, dan mengasah nilai-nilai positif dari masa kecilnya yang akan tetap bertahan dan mampu memanfaatkan sikap positifnya hingga membuahkan sesuatu yang positif bagi diri dan lingkungannya. Kredibilitas.

So, terserah Anda. Mau menjadi “the early bird” atau “the late bird”

Karena hukum itu akan terus berlaku “The Early Bird Catches The Worm” Semangat!!! 🙂

Advertisements

Tags: , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: