Perhentian untuk Menemukan Cara Pandang yang Lebih Positif

28 Desember 2010 pagi. Tiga hari menjelang pergantian tahun. Deru mesin angkutan kampus tak berbayar menyelingi derak bunyi sapu lidi petugas kebersihan membentuk alunan nada yang teratur. Bibi-bibi petugas kebersihan berseragam hijau itu mengingatkan aku pada masa kecil di kampung dulu. Betapa waktu telah bergerak lebih jauh daripada yang aku kira. Dulu, di kampung, aktivitas menyapu jalanan dan halaman sepertinya bukanlah pekerjaan yang menjanjikan upah. Tetapi hari ini, ribuan bahkan jutaan keluarga hidup dari profesi yang mulia ini.

Kontras dua dunia yang berbeda bisa aku lihat di kampus ini. Di satu sisi aku dapat dengan mudah berjumpa dan berbincang dengan seorang profesor hebat dengan segudang prestasinya dalam hal ilmu pengetahuan, tetapi di sisi yang lain aku juga dengan mudahnya dapat menemukan seorang ayah yang bahkan tak pernah mengenal bangku sekolah. Belum lagi gaya hidup tenaga pendidik di perguruan tinggi ini yang mulai bergerak jauh dari apa yang mungkin menjadi keharusan bagi mereka. Ironikah?

Aku teringat “curhatan” seorang dosen muda ketika aku dan dua sahabatku melakukan penelitian untuk tugas akhir. Beliau bercerita dengan sedikit keluh. Bahwa sebagian tenaga pendidik hari ini sepertinya sedang mengalami malorientasi. Jika dulu kampus adalah tempatnya ilmuwan produktif dengan gaya hidup sederhana. Mereka mencukupkan diri dengan kendaraan umum sebagai sarana pengganti jalan kaki menuju kampus tempatnya berkarya. Sekarang universitas harus menyediakan bahkan menambah arena parkir yang demikian luas hanya untuk menampung jaguar hitam berpenggerak ganda atau bahkan sekadar kijang beroda. Hmm, mudah-mudahan dengan demikian mereka akan lebih memperhatikan kinerja.

Tahun 2010 memang akan berakhir dalam hitungan jam. Tetapi apakah komitmen  tahun ini juga akan ikut berakhir? Padahal di akhir tahun lalu atau awal tahun ini sebagian orang bersemangat sekali membuat komitmen untuk baiknya hidup mereka. Atau bahkan sekadar berandai-andai tanpa jelas capaian apa yang akan ia kejar dan bagaimana cara mencapainya. Ah, mudah-mudahan aku tidak demikian.

Di situs jejaring sosial twitter, tempatnya manusia produktif dan sebagian manusia iseng berkicau, tampaknya hari ini mereka sudah bersepakat untuk berkicau tentang #2010memories sehingga paduan dua kata ini menjadi Trending Topic hampir sepanjang pekan ini. Sempat terselingi oleh aksi sebagian tweeps Indonesia yang beramai-ramai menuliskan #HATEMALAYSIA, mungkin ini respon terhadap aksi nekat segelintir suporter sepakbola Malaysia yang mengganggu konsentrasi penjaga gawang Timnas Indonesia di pertandingan away final Piala AFF 26 Desember lalu. Ya, aksi norak beberapa suporter yang mengarahkan laser hijau ke mata Markus Harison. Kemudian trend berubah lebih positif menjadi #loveindonesia, akhirnya :).

#2010memories.

Di dalam bukunya The 7 Laws of Happiness, Arfan Pradiansyah mengatakan bahwa kebahagiaan berbeda dengan kesuksesan. Sukses berarti mendapatkan apa yang kita inginkan, sementara bahagia adalah menginginkan apa yang kita dapatkan. Sukses dan bahagia ada di dua jalur yang berbeda. Sukses lebih berdimensi fisik sementara kebahagiaan berdimensi spiritual.

Nah, tahun ini mestinya layak dievaluasi melalui perenungan. Tidak ada salahnya membongkar kembali catatan-catan kecil yang terselip di lembar-lembar buku agenda itu. Kemudian mencoba melakukan kilas balik tentang perjalanan setahun ini. Apakah kita telah benar-benar berhasil menjadi pribadi damai yang berbahagia atau jangan-jangan kita hanya menjadi orang yang sukses tanpa merasa bahagia? Well, aku rasa melakukan hal ini untuk kebaikan tidak ada ruginya. Mudah-mudahan perhentian sejenak itu membuahkan cara pandang yang lebih positif untuk merangkai kembali cita yang mungkin telah terdistorsi oleh dampak lingkungan yang heterogen.

Tahun 2010 bagiku sangat spesial seperti tahun-tahun sebelumnya. Bukan karena tahun ini terdapat angka 10-10-10 (tanggal lahir ku 10-10) tetapi tahun ini kaya akan pelajaran hidup. Sebuah keputusan untuk melakukan perubahan besar dan mendasar telah ku ambil dan ku terima dengan segala konsekuensi yang ada setelahnya.

#Hidup ini bukan tanpa risiko. Tetapi besarnya keberanian, dan tanggung jawab untuk mengambil dan menanggulangi risiko itulah yang menjadikan risiko itu bernilai.

Aku kembali belajar tentang bagaimana memilih respon positif yang membaikkan. Steven R. Covey di dalam bukunya The 7 Habbits of Highly Effective People mengatakan bahwa setiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih respon seperti apa yang akan ia ambil terhadap stimulus yang datang kepada dirinya. Arfan Pradiansyah menambahkan dalam buku The 7 Laws of Happines bahwa yang juga penting adalah kemampuan untuk memilih pikiran positif yang juga membaikkan.

Sempat beberapa saat aku terkapar dalam sebuah masa transisi pemahaman. Di mana aku harus menyesuaikan diri dengan pemahaman yang lebih positif dan membaikkan. Tetapi yang bermasalah bukan pada pembiasaan diri terhadap hal yang positif dan membaikkan, melainkan sulitnya membiasakan diri untuk meninggalkan apa yang kuanggap sebagai sebuah kekeliruan.

#Kesulitan saya bukan membiasakan diri dengan hal positif dan membaikkan, tetapi meninggalkan hal negatif yang telah membiasa dan mendarah daging.

Akhirnya, membentuk sebuah kesadaran yang mengakar dan berdampak positif tak cukup dengan pengetahuan, tetapi mensyaratkan pembiasaan yang membutuhkan waktu panjang serta kontinuitas.  Tahun ini  aku sadari tak terlalu banyak pencapaian yang berhasil ku sempurnakan. Tetapi biarlah upaya dan kesungguhan yang akan selalu membantuku mewujudkan impian. Hari ini kembali aku tetapkan bahwa aku harus hidup dalam pengertian dan tetap menjalani proses sebagai prioritas. Walaupun hasilnya tak seperti apa yang menjadi harapan. Sabar, momentum terbaik akan datang. Pasti! 🙂

Komitment tahun depan: Jadi pribadi yang lebih positif, Wisuda, Kerja, Buka Usaha, Lanjut S2, Nambah hafalan, Lebih rajin Ta’lim, Belajar bahasa Arab, Lebih berbakti ke ayah dan ibu, Siap2 menikah, hehe… 🙂

Advertisements

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: