Mestinya Aku Tak Menjadi Pribadi Imitasi

“Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”

(HR Bukhari dan Muslim)

Hari ketiga tahun 2011. Sepertinya manusia telah mulai normal, gegap gempita perayaan tahun baru juga tampak telah surut. Komitmen-komitmen besar telah dibuat, menunggu untuk segera diwujudkan oleh pembuatnya. Tetapi bahkan kebanyakan komitmen (#resolution) besar itu hanya menjadi jamur angan-angan yang tumbuh subur di awal tahun. Ia akan segera lenyap beberapa pekan kemudian. Bukan karena kurang besarnya target yang ingin dicapai melalui komitmen itu tetapi karena kecilnya kesungguhan untuk menetapi komitmen-komitmen tersebut.

Hmm, semoga kita termasuk ke dalam kategori manusia-manusia yang teguh memegang komitmen, yang selalu menyegerakan pemenuhan terhadap komitmen yang telah dibuat. Amin.

Ada hal yang  mestinya menjadi prioritas komitmen bagi pribadi-pribadi baik nan anggun, yakni menetapi kejujuran. Karena jujur itu penting.

Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang sesungguhnya. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (motivasi di dalam hatinya).

Ibnul Qayyim berkata, Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq (kemunafikan) asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya).

Allah berfirman,

“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS. al-Maidah: 119)

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zumar: 33)

Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi,

“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”

Sedangkan kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama.

Sifat jujur merupakan alamat keislaman, timbangan keimanan, dasar agama, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Baginya kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.

Macam-Macam Kejujuran

  1. Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai ketiganya telah berdusta, bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.
  2. Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.
  3. Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Hal ini sebagaimana firman Allah:
    “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab: 23)Dalam ayat yang lain, Allah berfirman,“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka, setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (QS. at-Taubah: 75-76)
  4. Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif, “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah akan berfirman, ‘Inilah hambaku yang benar/jujur.’”
  5. Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi, sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakkal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur, sebagaimana firman Allah,“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15)

Baca selengkapnya di SINI

Nah, sahabatku.. mari kita introspeksi diri kita masing-masing. Tengok lagi kondisi kejujuran kita hari ini. Sekarang saatnya jujur dengan sejujur-jujurnya. Tidak apa-apa, karena hanya Allah, diri kita sendiri, dan 2 Malaikat di samping kanan dan kiri kita yang mengetahuinya.

Masihkah kita berpura-pura menjadi pribadi yang baik? Padahal sesungguhnya jauh panggang dari api. Masih sering pribadi ini menampilkan kebaikan yang dibalut kedustaan. Berapa banyak sahabat kita yang kita kelabui dengan tampilan indah sejuta pesona. Padahal mereka mengharapkan kita apa adanya yang baik adanya.

Mari membingkai kebaikan dengan kebaikan. Mari mereduksi kejelekan dengan lebih jujur mengakui kekurangan, sehingga terbuka celah untuk perbaikan. Mari kita berhenti dari berpura-pura dengan kebaikan separuh palsu itu. Jangan biarkan pribadi indah ini terbiasa dengan kepalsuan. Mari berlaku lebih jujur. Sebelum kita benar-benar menjadi pribadi imitasi yang tak lagi mampu mengenali dusta dan kejujuran sebagai dua hal yang sangat berbeda.

Semangat!

Advertisements

Tags: ,

2 responses to “Mestinya Aku Tak Menjadi Pribadi Imitasi”

  1. maya says :

    thanks for atikel, bikin mengerti arti pribadi yg baikk..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: