Akhir Sebuah Perjalanan adalah Awal Bagi Perjalanan yang Baru

Jatinangor, 27 Januari 2011 Pukul 03.01|Terjaga dalam keadaan lelah, masih 3 jam lagi hingga mentari merajai kelembutan pagi. Banyak hal yang belum aku segarkan dalam memori, dan ini adalah hari di mana aku mesti mempertanggungjawabkan apa saja yang pernah aku pelajari dan sedikit aku bagi selama kuliah. Ilmu pengetahuan tak pernah sepi karena kemalasan segelintir manusia untuk mempelajarinya. Dan itu membuatku sadar betapa pentingnya hidup dalam pengertian dan kefahaman. Ya, setidaknya aku bisa menjadi bagian yang meramaikan ilmu pengetahuan. Walau sedikit tak mengapa.

Pagi ternyata datang lebih awal bagiku hari ini. Kucoba mengefektifkan setiap detik yang berlalu sebelum ia lewat tanpa makna dan kesan yang membekas. 06.44 WIB aku bergegas menuju kantin bu lilis untuk meng-upload energi agar tidak kelaparan hingga pingsan. Walaupun sebenarnya aku malah sering tidak makan, dan aku tetap baik-baik saja tuh. Salah satu adik angkatanku malah menjuluki aku dengan julukan “kakak yang suka ngartis”, kalo bahasa si bungsu novia mungkin akan berbunyi “meng-artis” makna adalah kakak yang suka lupa makan dan sok sibuk kali ya..hehe. Hmm..ditengah perjalanan dari masjid an-Nahl menuju kantin aku bertemu dua sosok yang berjasa dalam hidupku, beliau adalah dosen waliku Bapak Ronnie seorang penekun ilmu fisiologi dan Bapak Wendry, pembimbing penelitianku, sang pekerja keras dan penggiat Ilmu biokimia, bioteknologi dan hal-hal seputar pangan asal ternak. “Selamat ya! Jam berapa rom?” ujar keduanya hampir bersamaan, karena memang beliau berdua datang bersamaan menggunakan satu motor alias boncengan, “..jam sembilan pak, terimakasih..” jawabku singkat..:) sok penting bgt ya, jawabnya singkat2..hehe.gapapa donk sekali2..:)

Nasi goreng rasa gundah..ahaha..saking anehnya pagi ini. Padahal hanya akan menempuh sidang sarjana, dan sebenernya perasaanku biasa saja. Tidak ada hal yang mesti dikhawatirkan. Tidak pula digundahgulanakan. Makan dengan cepat, mimum segelas air, eh pas mau bayar..”udah kasep…sama pak wendry…! ujar bibinya..waah..bapak ini perhatian banget sih, dari mulai nanya jam berapa sidang, sudah makan ato belum, ruang berapa,dll..eh ditambah sama makan gratis..ahaha..like. Makasih pak.:)

Masih Segar dalam Ingatan.

Datang saat injury time. Pake motor supra X 125R plat D8145EK. Parkir sembarangan. Bareng sobatku Reka Masa  ST. Hmm..maksudku waktu itu datang ke kampus fapet unpad jatinangor mau melakukan registrasi di fakultas untuk persiapan prosesi penerimaan mahasiswa baru. Nah, karena datangnya paling akhir, Alhamdulillah aku gak kebagian PRS (penerimaan ruang senat–acara dimarah2in boy! hehe..). Aku sih bandel dan gengsiku masih tinggi waktu itu–gengsi yg tidak penting sebenarnya..hehe–tapi ada baiknya juga. Saat itu aku masih tergolong ABABIL. Abang-abang labil..hahaha. Karena saat itu hati belum ikhlas menerima pilihan kedua yang ditakdirkan Alloh untukku kuliah S1. Pusing gak tuh kalimatnya?hehe. Jadi, pertama masuk kampus paling males diatur-atur, apalagi disuruh menggunduli kepala sendiri, bawa makanan aneh2, pake baju kotak-kotak. “Sinting bener nih orang-orang, beramai-ramai mengerjai mahasiswa baru!!!” pikirku. Padahal, sobat-sobatku di ITB menjalani prosesi penyambutan dengan kegiatan-kegiatan yang mendidik dan elegan. Bagusnya, sobatku perhatian sekali. Beliau membagi apa pun yang didapatkan dari rangkaian demi rangkaian kegiatan yang ia ikuti. Lengkap dengan cerita-cerita tentang pengalaman yang dia alami. Sungguh sangat mengobati. Senang!. Itulah gambaran yang aku alami pada awal-awal masa kuliah.

Sekarang aku sadari bahwa keadaan itu berawal dari paradigma pribadi yang kurang positif hingga termakan paradigma keumuman orang. Semua itu tak menghasilkan dan mengubah apapun selain akumulasi kelelahan hati yang melemahkan. Singkatnya, aku mulai menerima keadaan dan mulai berpikir positif terhadap segalanya. Maka apa pun yang terjadi aku harus menjadi mahasiswa yang lebih baik. Dari sanalah perbaikan mulai muncul, tak ada pilihan lain selain menjadi baik.  Tak ada pilihan selain menorehkan prestasi, sesederhana dan sekecil apa pun prestasinya! Karena sesuatu yang dilakukan dengan  positif pasti berbuah positif. InsyaAlloh!. Alhamdulillah akhir semester satu ditutup dengan indeks prestasi yang nyaris sempurna. Sejak saat itu aku memantapkan hati untuk tetap belajar dengan harapan ada torehan prestasi yang bisa kupersembahkan bagi sebanyak- mungkin orang agar dirasakan manfaatnya.

Masuk ke Dalam Kelompok Transnasional dan Keluar.

“Manusia yang tak mengetahui sejarah, pada dasarnya ia tak mengetahui apa pun”

Aku berani mengatakan kalimat itu benar adanya karena apa pun yang kita pelajari pada dasarnya adalah sejarah seluruhnya atau sebagiannya. Ilmu pengetahuan berkembang melalui proses panjang dalam pencatatan dan penyempurnaan. Maka sangatlah merugi orang yang tak mengenal sejarah, sedangkan ia sangat membutuhkannya, namun ia tak menyadarinya.

Sebagian dari catatan sejarah memang tidak menarik atau bahkan tidak menyenangkan untuk diketahui, tetapi dengan itulah manusia dapat mengambil pelajaran. Kata pak Mario Teguh, “manusia yang efisien adalah manusia yang belajar dari kegagalan orang lain, sehingga ia tak perlu mengalami kegagalan yang serupa”, kurang lebih begitu intinya, redaksional lengkapnya aku lupa.

Mengetahui sejarah merupakan filter, agar tau mana yang baik dan mana yang buruk. Agar jelas mana jalan dan mana jurang. Usia manusia terlalu singkat untuk dapat mengalami seluruh peristiwa. Padahal kita membutuhkan lebih banyak percepatan, sedangkan ketika kita jatuh, terkadang tidak serta merta kita bangun dan kembali pada kecepatan semula. Selalu saja membutuhkan jeda untuk mengatur kembali pijakan dan memulai langkah berikutnya. Ada yang singkat dan sayangnya tidak sedikit yang klesetan (lamaaaa gak bangun2..). Maka sejarah adalah solusi bagi mereka yang berupaya menjadi efisien.

Tiga tahun aku bergabung dengan sebuah kelompok transnasional yang katanya bernafaskan Islam. Awal ketergabunganku ke dalamnya adalah karena aktivitas pengajian semasa menjadi mahasiswa baru, akhirnya aku terekrut melalu proses singkat hingga jadilah aku salah satu aktivis mereka di almamaterku. Masa tiga tahun itu penuh dengan suka dan duka, positif dan negatif, dan yang paling terasa adalah semangatku dibakar untuk kemudian diarahkan menjadi energi penggerak proses kaderisasi. Impian-impian besar nan utopis tentang kejayaan Islam di-install-kan ke dalam memoriku lengkap dengan doktrin-doktrin kelompok itu. Aku menyebutnya satu paket penjagaan kader yang sangat efektif agar tetap tersibukkan dalam agenda-agenda kelompok. Kesibukan yang diberikan itu bukan tanpa alasan, maksud strategisnya adalah agar setiap kader junior maupun senior tetap berada di lingkaran jama’ah. Aku menemukan banyak orang yang ikhlas di dalamnya, tetapi sebagian mereka tidak benar-benar memahami tentang jamaahnya sendiri. Sebuah ironi mungkin. Tersebutlah nama Hasan Al-Banna, seorang tokoh pergerakan Islam negeri sungai nil (Mesir/Egypt). Jama’ah ini adalah Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh pemimpin mereka Hasan Al-Banna pada tahun 1928. Di Indonesia, perwujudan wajah mereka saat ini sangat mudah kita temui, mereka bermanuver dengan menggunakan wadah organiasi berupa partai politik.

Sekali lagi, sejarah itu penting. Mengetahui sejarah tentang bagaimana kelompok ini terbentuk, bagaimana isi ajarannya, bagaimana rekam jejak manuver politiknya, dan bagaimana kelompok ini bisa masuk ke Indonesia membuatku sadar betapa pentingnya untuk segera berlepas diri darinya. Bagi teman-teman yang masih tergabung di dalamnya agar tidak tersinggung dengan tulisan ini. Karena ini hanya catatan. Mudah-mudahan semakin menambah semangat kawan-kawan untuk memahami dengan benar jama’ah yang sedang kawan-kawan masih ikuti.

Bergabung ke dalam Keluarga Baru

Jalan nan panjang dan berkelok akan menjadi periode pendewasaan selanjutnya. Mudah-mudahan periode singkat di kampus bs menjadi bekal mengarungi kehidupan baru. Tak mudah melepaskan seorang yg selama 4 tahun terakhir bahu membahu dalam senang maupun duka di biofapet. Senang pernah bekerjasama dengan seorang bernama Romi Swadesi. Dan sekedar mengingatkan: Formal education will make you a living; self-education will make you a fortune. Begitu kata Jim Rohn

—–Bapak Dwi Cipto Budinuryanto—–

Kala itu akhir semester 2, aku dikabari seorang teman (puteri namanya) bahwa aku dicari oleh Teh Tami, seorang asisten praktikum Biologi Dasar di fakultas-ku. “Ah, ada apa?” ujarku. Ada apa teteh yang galak itu menanyakan saya..hehe. Belakangan aku ketahui bahwa beliau adalah seniorku semasa aku di SMA 8 Bandung dulu, wah-wah..dunia ini memang sempit. Singkat cerita ternyata aku diminta untuk menghadiri seleksi pemilihan asisten Dosen Praktikum Biologi Dasar. Sungguh kesempatan yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Alhamdulillah aku dan Ayu Pratiwi Lusiana terpilih dan bergabunglah kami ke dalam keluarga baru. Biofapet.

Bergabung di dalamnya seperti menemukan oasis di tengah sahara kehidupan. Banyak sekali nilai positif dan pembelajaran yang dapat aku serap. Kehausan akan sosok ayah, kakak, adik, dan sahabat sedikit banyak terobati di dalamnya. Alhamdulillah.

Tak banyak yang dapat aku berikan kepada mereka, sebaliknya mereka memberikan banyak melebihi apa yang aku kira.

Saat-saat bersama mereka merupakan pengalaman yang sangat bernilai dan berharga. Aku menyadari bahwa kita tidak mungkin membeli sebuah keluarga. Satu-satunya jalan adalah dengan menempuh upaya dan sebab yang membuatnya ada. Hidup dalam kebaikan! Kiranya sejarah dapat membuktikan bahwa tidak satu pun miskin maupun kaya yang dapat melakukan jual-beli atas kebahagiaan yang dimilikinya. Nilai kebahagiaan berada di luar wilayah harga-harga materi.

Ken Ratu bilang di status facebook-nya: “….ngemil sekantong penuh buah stroberi yang asem-manis… seperti menikmati asam-manisnya kehidupan.. yumm-yummmm ^_^”

Jika diibaratkan, maka perjalanan singkat bersama biofapet selama empat tahun terakhir mirip dengan makan stroberi. Masing-masing pengalaman meninggalkan sensasi yang berbeda, dari manis dan asam hingga campuran manis-asam. Manis ku makan asam tak mungkin kubuang. Biarlah semuanya menjadi kenangan dan akan kucatat sebagai bukti persaudaraan. Agar generasi setelah kami kelak mengetahui bahwa kami pernah bersama sebagai satu keluarga. Biofapet.

Saatnya mungkin telah tiba. Sebagai manusia aku tak berkuasa menentukan skenario dan untuk sementara aku mesti berhenti menjadi mahasiswa. Aku lulus pada hari kamis, 27 Januari 2011 pukul 10.45 WIB. Alhamdulillah.

alhamdulillah… Selamat dan Semangat untuk abangku Romi Swadesi atas usainya pergulatan dengan skripsi yang berakhir di sidang dan kembali memulai ke kehidupan di depan yang lebih menantang.. Selamat! Semangat!Romi Swadesi, S.Pt. Itulah salah satu pesan dari adikku, Ken Ratu Gharizah AlHuur. Terimakaksih adikku.

Masjid, tempat aku menempa  diri dan membangun energi positif

Bagi sebagian orang, hidup sendiri tanpa sanak saudara  tanpa bekal yang memadai bisa menjadi pemicu pupusya cita-cita. Begitu pun mungkin bagiku jika saja aku tidak benar-benar yakin akan pertolongan Allah. Aku menyadari sepenuhnya bahwa aku bukanlah orang yang tangguh. Kadang aku menangis terisak. Kadang aku murung dalam kesempitan hidup. Tetapi aku memilih untuk bahagia saja. Allah tidak mungkin mendzalimi hambanya, Aku sangat yakin.

Hampir 3 tahun kuhabiskan waktu-waktuku di kampus, terutama masjid An-Nahl. Mungkin masjid inilah tempat yang paling banyak aku menghabiskan waktu di dalamnya. Aku memilih untuk lebih banyak tinggal di masjid ini. Alasan utamaku adalah mencari suasana baru yang lebih positif dan membaikkan setelah hampir 6 tahun tinggal dalam kamar kost. Di samping itu memang aktifitasku hampir 100% ada di jatinangor. Maka pergi-pulang Bandung-Jatinangor bagiku hanya penghamburan energi, waktu, dan materi. Maka aku putuskan untuk tinggal di jatinangor saja, dan aku memilih tinggal di masjid daripada kost, karena selain pertimbangan materi, ada pertimbangan lain yakni kejernihan pikiran. Ku pikir sama saja dengan di Bandung jika aku menyewa kamar kost. Pengaruh lingkungan seringkali membuatku kurang produktif dan cenderung negatif. Di masjid ini aku pun belajar lagi tentang nilai-nilai keikhlasan, kerjasama, tenggang rasa, makna hidup bersama, dan pengendalian diri.

Laboratorium Produksi Ternak Unggas

Sepertinya laboratorium yang paling banyak aku kunjungi selama kuliah di fakultas peternakan adalah laboratorium ini. Gedung 4 lantai 2 fakultas peternakan. Di sini aku banyak belajar tentang bagaimana menjadi pribadi yang dapat memberikan sebanyak mungkin manfaat bagi orang lain. Tempat aku belajar membangun kapasitas, melatih kerjasama, mengambil dan membagi tanggung jawab, berbagi kebahagiaan, tertawa, haru, dan juga kadang menjadi tempat melatih mengendalikan denyut jantung ketika harus menyampaikan materi dalam keadaan belum siap.

Hmm..di sini pula aku menyadari bahwa kecilnya diri kita bukan alasan untuk tidak memberikan manfaat bagi sesama. Kita tetap bisa melakukan sesuatu yang berguna, sejauh kita ikhlas melakukannya. Ragam aktivitas di laboratorium ini membentuk satu ketertarikan baru bagiku, menjadi tenaga pendidik.

TPA Al-Huda: Antara mengajar dan belajar

Terhentinya aktifitasku di dalam jama’ah yang aku tinggalkan membawa perubahan yang sangat signifikan dalam kehidupanku. Alhamdulillah, kendati bagi sebagian temanku, ini adalah sebuah kemunduran, bagiku sebaliknya. Aku jadi punya banyak waktu untuk belajar mengenai banyak hal. Yang paling penting adalah pelajaran mengenai aqidah yang benar dan fiqih-fiqih seputar ibadah. Alhamdulillah.

Sahabatku, Dudi Apriana, sering bercerita tentang pengalamannya di Taman Pendidikan Al-Qur’an Al-Huda, hingga aku pun tertarik untuk datang ke sana. Alhamdulillah, ternyata aku sangat nyaman dengan kondisi di sana. Aktivitasnya sarat dengan hal-hal positif, bebas dari pemahaman-pemahaman aliran-aliran/kelompok-kelompok yang tidak jelas. Hal yang paling menantang adalah aku berkesempatan menjadi salah satu pengajar di sana, yang mana mau tidak mau aku harus berinteraksi langsung dengan santri-santri anak-anak yang masih polos.

Alhamdulillah, aku jadi belajar banyak sekali dari mereka. Persentuhanku dengan mereka membuat ku banyak menyadari betapa pentingnya pendidikan agama Islam yang benar bagi anak. Mereka adalah anak-anak yang masih bersih, bebas dari paham-paham yang menyimpang. Sehingga ilmu sangat mudah mereka terima. Sedangkan kita yang telah dikatakan dewasa bahkan bergelar sarjana kadang-kadang sulit sekali menerima ilmu agama yang lurus. Alasannya banyak sekali, mulai dari kesibukan, malas, malu, dan bentuk penolakan lainnya. Boleh jadi penolakan itu muncul disebabkan oleh sampah-sampah pemahaman yang meyimpangkan kita dari kebenaran. Kita harus mengambil pelajaran dari mereka. Anak-anak yang sangat mengispirasi!.

Sarjana

“Saj-jana”= “Sat-jana”: orang yang patut dihormati, orang dari keturunan terhormat, orang bijaksana, orang baik, orang benar, orang yang memiliki kebijakan sejati.

Manusia boleh merasa bahagia atas capaian yang berhasil diraihnya, tetapi kesombongan tidak boleh disertakan bersama kebahagiaan itu. Nikmat yang ada pada diri kita dan kita rasakan sebagai kenikmatan hanyalah dari Allah semata. Demikian pula dengan gelar-gelar kehormatan yang disematkan kepada kita. Semua itu dimungkinkan karena Allah mengizinkannya.

Menjadi seorang sarjana bagiku bukanlah gelar yang pantas dibanggakan. Ada tanggung jawab yang sangat besar yang mesti disadari seorang sarjana. Jika dikembalikan kepada arti kata sarjana maka, minimal seorang sarjana mestinya selalu berupaya untuk menjadikan dirinya seorang baik dan bijak. Selebihnya ada tanggung jawab sebagai orang berilmu yang harus menjadikan ilmu yang dimilikinya bermanfaat bagi dirinya dan sebanyak-banyak manusia di sekelilingnya.

Ucapan Terima Kasih

Kepada Ibunda yang kucintai dengan segenap kecintaanku karena Allah. Semoga Allah menjagamu dengan sebaik-baik penjagaan. Terima kasih Ibu.

Aku bersyukur kepada Allah atas kenikmatan memiliki sahabat-sahabat yang banyak lagi baik. Selama lebih dari empat tahun aku dikelilingi oleh pribadi-pribadi baik dengan segala keindahnnya.

Aku mula-mula ingin mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu dosen atas segala upaya mentransfer ilmu dan nilai-nilai positif yang tak terbeli. Bapak Dwi Cipto, Bapak Deny Andrian, Bapak Iwan Setiawan, Bapak Wendry Setiyadi Putranto, Bapak Obin Rachmawan, Bapak Iman Hernaman, Bapak Hermawan, Ibu Lilis Suryaningsih, Ibu Tita Damayanti, Ibu Siti Wahyuni, dan Ibu Sri Bandiati. Beliau semua adalah sosok guru dan teladan yang baik.

Aku beruntung memiliki sahabat seperti Dudi Apriana, Jaka Kusumah, Bayu Hermawan, Asep saripudin, Yuda, Kang Agung, Eggy Muhammad Juniardi, Muhammad, Reka Masa, Arie MF, Radian Furqon, Muhamad Gelar, Totoh Suandi, Ayu Utami, Ayu Pratiwi, dan Febi Adrianti. Semoga persahabatan kita berlanjut hingga mudah-mudahan kita kelak dipertemukan dalam keadaan berbahagia di Surga Allah. Amin.

Aku banyak mengambil pelajaran dari adik-adikku Adi Asmari, Anne Rufaidah Lubis, Rezayanti Shinta, Rima Yhanti,  Gina Ratnasari, Inggit Rusdian, Grahita Ardana, M. Akbar Nurhakim, Ken Ratu Gharizah Alhuur, Novia Rahayu, Ambar Siswati, dan Mutiara Maghfira. Terima kasih. Senang bisa mengenal kalian semuanya.

Di dalam hati aku berterima kasih kepada lebih banyak lagi orang. Tentu tidak mungkin aku menyebutkan seluruhnya, karena daftarnya mungkin akan terlalu panjang, atau dapat membuka celah orang berpikiran pilih kasih karena aku lupa namanya, padahal jasa mereka sama berharganya. Biarlah Allah membalas segenap kebaikan mereka dengan kebaikan yang lebih banyak.

Jatinangor, 2011.

Advertisements

6 responses to “Akhir Sebuah Perjalanan adalah Awal Bagi Perjalanan yang Baru”

  1. ilham sunda diputra says :

    kadang dari awal sebuah perjalanan kita hanya bisa mengeluh tapi setelah menjalani nya dengan ikhlas dan berfikir positif maka kita akan tahu rahasia dibalik semuanya…

    saya suka dengan tulisan nya…
    penuh makna dan keikhlasan…

    selamat ya sudah melewati situasi seperti ini..
    semoga terus berfikir positif…

    • romi swadesi says :

      Alhamdulillah,
      kata pak Mario Teguh:

      “Seandainya saya tahu
      hidup akan menjadi seperti ini,
      dulu saya tidak akan
      banyak mengeluh seperti itu.

      Saya akan lebih mensyukuri
      apa pun keadaan saya saat itu,
      karena kecewa dan derita
      adalah justru api yang membakar
      kesungguhan kita
      untuk mengeluarkan diri
      dari kelemahan dan kemiskinan.

      Sesungguhnya rasa syukur itu pengindah.”

      Amin, Semoga do’a itu juga berlaku buat Ilham ya..
      Sukses Terus..!

      …oya, terimakasih atas kunjungannya ya..

  2. Novia Rahayu says :

    jangan pernah ktakan slamat tinggal pda smua knangan,,,tpi ktakanlah aku kini akan brjlan brsama knangan itu dan mmbawanya kmnapun aku prgi…

    trima ksih utk energi2 pstif yg slama ini snantiasa dtransferkan,,,
    snang bsa mengenal pribadi2 yg snantiasa mlatih utk ttap trsenyum,,,tersenyun dan tersenyumlah….

    ya,,,kluarga baru d biofapet…begitupun saya “si bungsu” mrasakan hal sama sperti yg akang goreskan dlam tlisan ini…suasana yg luar biasa…

    “tngan jahil” ini mngkin akan rindu untuk digerakkan lantaran kejahilan si “nyamuk jahil”

    ayayay….
    trkunci atau mngkin ju2rnya dkunci d markas mnjdi bgian dri crita kekonyolan….

    ahahahha….
    baiklah^-^

    semuanya akan trsimpan dlam memory….

    🙂

    • romi swadesi says :

      … 🙂 terima kasih de, semoga di mana pun kita berada, manfaat dan kebaikkan kita lah yang dikenal..sehingga selalu indah untuk dikenang..

      Sukses de..

  3. Abud says :

    Subhanallah..
    So Flashback memories, mi..
    Selamat telah menyandang gelar S.Pt,
    beberapa hari setelahnya memang masih terkesan lega,
    tapi setelah wisuda.. berasa ada yang bilang : “welcome to the jungle, bud”

    selamat berjuang, mii..
    mudah2an ilmu peternakan dan ilmu hidup bisa kita terus kembangkan setelah ini.. 🙂

    • romi swadesi says :

      Wah..Abud, makasi banyak…
      amin..dan semoga perkembangannya selalu positif ya bud..buat kita dan sekeliling kita..

      hmm..jika normal memstinya romi juga akan merasakan hal yang sama ya bud..:) seperti memasuki belantara kehidupan yang sesungguhnya.. 🙂

      sukses selalu buat Abud..
      Merdeka!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: