Supaya Ramah Lingkungan, Ayo Senyum..

Seperti halnya tangis, senyum adalah bahasa universal yang tidak membutuhkan pembelajaran (bagi manusia normal ) untuk dapat memahaminya. Bahkan manusia telah dianugerahi kemampuan untuk tersenyum sejak usianya masih dalam hitungan pekan (CMIIW). Senyum mampu menembus segala tembok dan tirai perbedaan budaya, bangsa, dan bahasa.

Senyum itu ajaib…percaya ngga? Senyum bisa menghilangkan kebencian, kekakuan, dan kesedihan. Bahkan salah satu amalan ringan yang tidak membutuhkan biaya namun bernilai ibadah yang sangat tinggi adalah senyuman yang tulus. Nah, ajaib bukan?!

Belakangan banyak penulis dan tokoh publik yang khusus mengulas bahkan membahas secara mendalam tentang senyum dan segala bentuk keistimewaan yang terkandung di dalamnya. Sebut saja Pak Gede Prama,
beliau mengatakan bahwa senyum adalah lengkungan yang bisa meluruskan banyak hal. Dan saya setuju dengan pernyataan beliau. Ada pula yang membagi senyum ke dalam kategori berdasarkan tingkat keikhlasan sebuah senyuman. Pak Jamil Azzaini, beliau adalah penulis buku “TUHAN, Inilah Proposal Hidupku” mengatakan bahwa senyum itu harus 227. Senyum 227 ini artinya bahwa senyum baru akan terlihat tulus jika menarik bibir ke kanan sejauh 2 cm dan ke kiri sejauh 2 cm kemudian dilanjutkan dengan mempertahankannya selama minimal 7 detik. Jika kurang dari tujuh detik, maka kata beliau senyum itu akan kehilangan ketulusannya.

Hmm.. Senyum 227. Saya sepakat dengan pendekatan ini. Hanya saja dalam beberapa sisi, pandangan saya, karena ini hanya pendekatan maka, boleh jadi bukanlah hal yang harus menjadi patokan serta dapat berlaku bagi seluruh orang, walaupun saya yakin setiap orang bisa mencobanya. Karena ketulusan senyuman tidak hanya ditentukan oleh tindakan yang zhahir (tampak), lebih dari itu ketulusan senyuman ditentukan oleh pekerjaan hati yang akan tercermin pada tampilan lahiriyah seseorang, yakni berupa gerakan bibir dalam selang waktu tertentu. Secara zhahir ketulusan senyuman pun ditentukan oleh banyak faktor lain semisal mimik wajah secara keseluruhan. Di sana ada gerakan otot wajah dan mata yang berbinar atau kadang menyipit.

Nah, lalu bagaimana Rosulullah Shollallahu ‘alayhi wasallam sebagai idola kita mencontohkan adab tersenyum?

Beliau Shollallahu’alayhi wasallam adalah pribadi yang senantiasa bermanis muka dan selalu menebarkan salam.

Hal ini sangat jelas tidak hanya tertampakkan secara lahiriyah Beliau Shollallahu’alayhi wasallam, beliau pun senantiasa berpesan kepada kita untuk memelihara senyuman. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Senyummu kepada saudaramu itu sedekah”, dan sabda beliau yang lain “Janganlah engkau remehkan suatu kebajikan sedikitpun, walaupun hanya bermanis muka terhadap saudaramu”. (HR. Muslim)

Termasuk akhlaq Beliau Shollallahu ‘alayhi wasallam adalah senyum beliau yang sangat tertata. Adapun Beliau Shollallahu’alayhi wasallam jika tersenyum dan tertawa selalu terjaga di dalam batas-batas kewajaran. Sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha : “Tidak pernah saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tertawa terbahak-bahak sehingga kelihatan batas kerongkongannya. Akan tetapi tertawa beliau adalah dengan tersenyum.” (HR. Bukhari)

Senyum tentu berbeda dengan tawa. Terkadang tawa dapat menyakiti, tetapi senyum tidak.

Saya memiliki pengalaman yang menarik dengan senyum. Saat itu saya sering berpapasan dengan seorang yang saya tau orang itu, tetapi belum kenal nama dan belum pernah berinteraksi. Setiap berpapasan kami tidak pernah berinisiatif untuk menyapa satu sama lain. Senyum pun tidak. Lama kelamaan dalam hati timbul prasangka, “ini orang sombong banget sih! kenal aja engga!” ujarku. Sampai suatu saat saya memaksakan diri untuk tersenyum saja, dan ternyata dia membalas dengan senyum dengan sapaan hangat sebagai bonusnya. Waah…akhirnya kami mengenal satu sama lain dan akhirnya kami berteman baik. 🙂

Pernah juga saya bertemu dengan orang yang kabarnya adalah seorang yang baik, faham agama, tetapi wajahnya selalu berkesan galak, matanya bulat dan sering menyorot tajam saat mamandang, yang paling parah adalah hampir tidak pernah saya melihat beliau senyum. Bahkan ketika saya berpapasan dengan beliau dan saya berikan senyum, eh..beliau tidak balas tersenyum. Kesannya horror sekali. Sehingga menimbulkan kesan bahwa Islam itu seram. Padahal sekali lagi Rosululah shollallahu’alayhi wasallam berpesan agar bermanis muka kepada saudara kita.

Jadi teringat nasihat yang disampaikan ustadz Abu Yasir ketika khutbah jum’at tadi siang, yakni tentang pentingnya berilmu sebelum beramal. Maka mengetahui ilmu mengenai adab dalam bermu’amalah dengan saudara kita yang lain itu sangatlah penting. Salah satunya dengan mengetahui etika dalam hal melepas senyum.

Dan senyum sejatinya adalah milik mereka yang berhati lapang, berjiwa halus, berilmu, dan indah pekertinya.

Kata Pak Dwi Cipto , “Senyum, supaya ramah lingkungan..” 🙂

Advertisements

Tags: , , , ,

One response to “Supaya Ramah Lingkungan, Ayo Senyum..”

  1. shalehah165 says :

    Sip.. ayo senyum 🙂 dan, ayo keep posting… Postingan terbarunya mana? Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: